Saya yakin hampir setiap malam saat anda
tidur anda bermimpi. Mimpi tersebut
ibarat rekaman video kehidupan anda yang
diputar secara acak. Mimpi anda bisa
berarti, bisa juga tidak berarti, tergantung
bagaimana anda menafsirkannya. Tapi
mimpi yang ingin anda wujudkan, harapan
yang ingin anda realisasikan dalam bentuk
kerja keras, ketekunan dan kesabaran
adalah imajinasi. Imajinasi bukan sekedar
mimpi tidur, yang diputar secara acak di
luar kemampuan kita. Imajinasi sudah
ditetapkan dan ditegaskan sesuai dengan
keinginan kita dalam keadaan sadar dan
diputar 24 jam nonstop setiap hari dalam
pikiran bawah sadar kita. Imajinasi adalah
kejeniusan. Orang yang bisa
menghidupkan dan mewujudkan imajinasi
adalah orang yang jenius.
Kualitas hidup kita tergantung dari
imajinasi kita. Imajinasi kecil memberikan
hasil dan kualitas hidup yang kecil,
imajinasi besar memberikan hasil dan
kualitas hidup yang besar, tanpa imajinasi
memberikan hasil dan kualitas hidup yang
tidak jelas. Oleh karena itu, imajinasi
sangatlah penting, maka hidupkanlah
imajinasi anda.
Dalam kita bekerja, kita harus memiliki dan
mampu menghidupkan imajinasi kita, yaitu
suatu gambaran besar yang akan dicapai
atau dihasilkan dalam hidup dan pekerjaan
kita dalam kurun waktu tertentu, dalam
waktu lima tahun, sepuluh tahun atau dua
puluh tahun yang akan datang. Bagaimana
cara memiliki imajinasi? Kita harus memiliki
keberanian dan kreativitas untuk
menggambarkan kehidupan dan hasil
pekerjaan kita pada masa yang akan
datang. Terlalu banyak orang yang takut,
malu, ragu, malas untuk memiliki
imajinasi. Kenapa? Karena mereka ingin
menjadi orang yang biasa-biasa saja,
dengan berpikir dan bertindak dengan cara
biasa-biasa saja. Hasilnya tentu bisa
dibayangkan, tidak ada suatu prestasi yang
luar biasa bisa dihasilkan dengan cara
biasa-biasa saja.
Imajinasi harus diwujudkan dengan kerja
keras, tekun dan sabar. Banyak orang yang
bisa bekerja keras dan tekun untuk tujuan
materi, tapi sedikit orang yang bisa bekerja
sabar. Imajinasi itu terwujud melalui
proses bertahap bukan seketika, yaitu:
proses kerja keras yang menunjukkan
kegigihan dan kegairahan dalam bekerja;
proses ketekunan yang menunjukkan
ketelitian, kepintaran dan talenta; proses
kesabaran yang menunjukkan kemantapan
hati, ketenangan dan kekuatan berpikir
fokus. Jika anda sudah mampu
menghidupkan imajinasi anda, dengan
memiliki keberanian dan kreativitas, yang
diwujudkan dengan kerja keras, tekun dan
sabar, maka tidak ada yang tidak mungkin
jika anda berpikir mungkin. Bahkan
gunungpun bisa berpindah dengan
kekuatan imajinasi anda. Anda bisa
berhasil, sukses, kaya, sehat dan bahagia,
sesuai dengan imajinasi anda. Selamat
bekerja semoga sukses.
Next Imaji
Tuesday, 9 August 2011
Kebangkitan & krisis Imaji bangsa
’’Turunkan tanganmu jenderal..,
turunkan tanganmu. Tidak semua orang
yang naik roda empat itu pantas kau
hormati....’’. Itulah salah satu adegan
yang sangat mengharukan saat Naga Bonar
'berbicara' pada patung Jenderal
Soedirman, meminta agar menurunkan
tangannya yang sedang hormat. Meski
hanya dalam cerita fiktif, semangat
nasionalisme, cinta tanah air, dan bela
negara, sang 'Jenderal' Naga Bonar menjadi
cermin bagi siapa saja. Khususnya kaum
generasi muda di negeri ini.
BANGSA Indonesia memperingati Hari
Kebangkitan Nasional ke-103. Usia yang
cukup tua, yang seharusnya telah mampu
mematangkan nilai-nilai dari semangat
kebangkitan itu sendiri. Di masa lalu
bangsa kita pernah jaya pada zaman
Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Bahkan
pada zaman Majapahit telah terikrar
penyatuan nusantara oleh Patih Gajah
Mada. Penyatuan nusantara ini jauh lebih
luas dari cakupan organisasi Boedi Oetomo
yang hanya meliputi pulau Jawa.
Momentum berdirinya Boedi Oetomo
secara politis telah kita sepakati sebagai
tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia di
dalam mencapai kemerdekaan.
Bahkan, secara kultural historis, para ahli
sejarah dan pakar politik sering
menempatkan peristiwa tersebut sebagai
titik awal dimulainya perjalanan sejarah
baru bagi bangsa Indonesia. Makna penting
di balik peristiwa tersebut adalah
keberanian kaum muda dalam menolak
kembali kehadiran kolonialisme di negeri
ini. Hal itu jelas tidak akan terwujud tanpa
adanya kesadaran kolektif atas imaji
kebangsaan yang dicita-citakan. Imaji
kebangsaan memiliki kekuatan luar biasa
dalam menggerakkan pikiran dan tindakan
kaum muda untuk berani menentang
kembali kolonialisme dan neokolonialisme
yang mengancam eksistensi negara dan
bangsa.
Di masa itu, kekuatan imaji kebangsaan
kaum muda dapat diandalkan dalam
meraih cita-cita mulia negara yang
merdeka. Bagaimana dengan kondisi saat
ini? Masihkah nilai-nilai kepahlawanan
kaum muda dapat diandalkan dalam
menopang kelangsungan hidup berbangsa
dan bernegara? Kaum muda merupakan
pilar utama bagi negara di belahan bumi
mana pun. Jika kaum muda tidak lagi
memiliki imaji kebangsaan yang kuat dan
kokoh, sebuah negeri bisa terancam
mengalami keruntuhan. Wajah negeri kita
semakin diwarnai dengan runtuhnya
solidaritas sosial, menguatnya kesenjangan
sosial, melemahnya kepercayaan publik,
ancaman krisis ekonomi, konflik sosial
vertikal dan horizontal, merebaknya kasus
korupsi, dan berbagai potensi ancaman
bencana, yang jika tidak terkelola dengan
maksimal akan memperkuat krisis imaji
kebangsaan.
Selalu muncul pertanyaan, apakah ada
perbedaan antara hari ini dengan 103
tahun yang lalu? Bedanya (barangkali), jika
dulu bangsa kita dijajah asing, sekarang
dijajah oleh bangsa sendiri. Banyak putra-
putri bangsa yang memiliki reputasi baik
namun tidak ada tempat di negeri sendiri.
Kalau para tokoh kebangkitan nasional
diperkenankan untuk hidup kembali, apa
kira-kira pendapat mereka tentang
Indonesia hari ini, tentang pemimpin-
pemimpin negara, dan terpenting tentang
semangat nasionalisme generasi muda.
Mengapa nasionalisme? Harus disadari
bahwa salah satu kata kunci dari lahirnya
kebangkitan nasional karena adanya
semangat nasionalisme dan bela negara.
Jujur kita akui bahwa semangat
nasionalisme saat ini hanya dimiliki oleh
generasi tua, khususnya kakek nenek kita
yang mengalami hidup di masa penjajahan.
Sementara pemahaman akan nasionalisme
dan bela negara serta cinta tanah air bagi
kalangan generasi muda semakin
memudar.
Contoh kecil saja, berapa banyak
masyarakat kita yang secara ikhlas dan atas
kesadaran sendiri mengibarkan bendera
merah putih pada peringatan 17 Agustus.
Omong kosong bicara tentang persatuan
dan kesatuan. Bila setiap saat selalu terjadi
pertikaian sesama kita sendiri di semua
tataran. Dengan dalih demi rakyat serta
untuk menunjukkan paradigma
transparansi, demokratisasi, dan
keterbukaan, unjuk rasa menjadi
pemandangan yang tidak asing lagi. Rakyat
pun menjadi bingung, sosok mana yang
pantas menjadi figur pemimpin karena
yang mengaku tokoh pun saban hari hanya
mengkritik dan menghujat.
Kita seperti sedang berjalan di alam
gelap gulita, sehingga satu sama lain saling
bertabrakan atau sengaja bertabrakan.
Kondisi seperti ini mau tidak mau telah
mengganggu para penyelenggara
pemerintahan, khususnya dalam
memberikan pelayanan bagi masyarakat.
Ironis dan menyedihkan. Semua ini bisa
terjadi karena sejarah bangsa yang
seharusnya dapat menjadi pedoman dalam
meneruskan perjuangan para pendahulu
telah ditinggalkan. Seyogyanya semangat
kebangkitan nasional ini secara terus
menerus digelorakan dalam rangka
memberikan pemahaman bagi bangsa ini,
khususnya kaum muda agar dapat
menauladani semangat dan patriotisme
para pendahulunya.
Dengan memahami sejarah masa lalu,
diharapkan ke depan tidak terdengar lagi
tuntutan sekelompok masyarakat atau
golongan yang ingin memisahkan diri dari
NKRI Tidak akan muncul konflik atau
'perang' antarsuku, kampung, sekolah, dan
lainnya karena semua telah paham bahwa
Indonesia adalah satu, bahwa kita
bersaudara.
Secara jujur harus diakui bahwa pasca
bergulirnya reformasi, banyak agenda yang
bertujuan untuk menanamkan kesadaran
bagi masyarakat terhadap bela negara dan
cinta tanah air semakin memudar, bahkan
nyaris punah. Peringatan hari-hari besar
nasional terasa hambar dan hanya sebatas
seremoni, termasuk peringatan HUT
kemerdekaan. Akibatnya, banyak para
remaja usia sekolah di tingkat SMA yang
tidak mampu menjelaskan tentang sejarah
pergerakan kemerdekaan Indonesia.
Sementara elemen kepemudaan lebih asyik
bermain dengan ranah politik dan
melupakan kewajiban yang mestinya
dilakukan dalam rangka pembinaan dan
pengembangan kaum generasi muda.
Untuk hal yang satu ini, rasanya tidak salah
jika kita mengadopsi langkah-langkah atau
program yang pernah dilakukan
pemerintahan Orde Baru. Tidak semua
peninggalan Orde Baru haram untuk
diteruskan, sepanjang hal tersebut bernilai
positif bagi kebaikan dan keutuhan bangsa
ini ke depan.
Seyogyanya organisasi Karang Taruna
sebagai wadah pembinaan dan
pengembangan generasi muda lebih
diberdayakan lagi keberadaannya.
Mengingat, Karang Taruna merupakan
satu-satunya organisasi sosial yang
independen tanpa membedakan suku,
agama, dan latar belakang politik. Karang
Taruna diharapkan mampu menjadi
perekat dan pemersatu kaum muda dari
berbagai macam latar belakang yang ada.
Bila tidak, potret pemuda dari waktu ke
waktu akan semakin buram dan tentu saja
berdampak pada kualitas para calon
pemimpin di masa datang. Benar bahwa
pemuda merupakan ahli waris pemimpin di
masa depan. Tapi perlu diingat, para
pemuda pun punya kewajiban untuk
membuat warisan bagi generasi
berikutnya. Jangan sampai pada saatnya
nanti tidak mampu menjawab ketika ada
yang bertanya tentang apa yang akan Anda
wariskan kepada generasi berikutnya.
Karena pada kenyataannya hari ini kita
tidak berbuat apa-apa, kecuali untuk diri
sendiri.
Tanpa bermaksud mencari kambing
hitam, tidak ada salahnya jika kita
menengok pada sistem dunia pendidikan
yang memiliki tanggungjawab besar dalam
membentuk sosok generasi muda yang
handal. Belakangan sangat tren dan
menjamur sekolah-sekolah bertaraf
Internasional. Baik negeri maupun swasta.
Semua pihak, baik lembaga pendidikan
maupun para orang tua, merasa bangga
dengan sekolah ini karena dipandang
mampu memberikan fasilitas yang jauh
lebih baik dan lengkap dibanding sekolah
biasa. Tidak pernah terpikir bahwa dalam
perjalanannya sedang terjadi pengikisan
semangat nasionalisme bagi para siswa
terhadap Ibu Pertiwi. Maka jangan
menyesal jika beberapa tahun ke depan
generasi muda kita tidak hafal lagi dengan
lagu kebangsaan Indonesia Raya dan tidak
peduli terhadap Pancasila dan UUD 1945.
Maklum, mereka dalam kesehariannya
dituntut untuk lebih banyak belajar bahasa
asing dibandingkan bahasa Indonesia. Maka
tidak ada salahnya jika semua pihak
mencermati penerapan kurikulum dan
proses belajar mengajar di sekolah bertaraf
internasional ini, agar apa yang
dikhawatirkan tidak terjadi. Jangan sampai
para murid lupa ke-Indonesiaan-nya,
kehilangan rasa cinta negaranya yang
merupakan modal paling dahsyat dalam
mewujudkan kebangkitan secara nasional.
(*)
User's Online
848 Tamu online
Statistik
Pengunjung
Hari Ini 4783
Kemarin 5573
Minggu
Ini 14883
Bulan
Ini 46989
Jumlah 1500730
IP: 80.239.243.36
OPERA 9.80,
Visitors Counter
Gabung di Facebook!
Tajuk
Pencapaian Monumental KPK
PENANGKAPAN buron KPK, M. Nazaruddin,
oleh tim gabungan merupakan pencapaian
yang monumental bagi lembaga
antikorupsi tersebut. Nazaruddin...
Darsem Sebaiknya Tahu Diri
KB Bakal Masuk Kurikulum
Rakyat Bubarkan Parpol
Fraud Management
Kontroversi Marzuki Alie
Moratorium TKI
Jangan Anarkis Selama Ramadan
Internal KPK Tak Lolos
Rame-Rame Keroyok Hambalang
Podium Rakyat
Penipuan melalui ATM
Polantas Berlaku Kasar
Berantas Penyelewengan Dana
PNS Pulang Cepat
Berantas Petasan
Perbaikan Jalan
Setop Pemadaman Listrik
Akta Kelahiran Belum Selesai
Apresiasi Wali Kota
Razia Indekos
Hari Ini! Selasa, 9 Agustus 2011 Cari
Home Berita Utama Metropolis Lampung Raya Politika Metro Bisnis Pendidikan Society Nasional All Sport Entertainment
Opini
SABTU, 21 MEI 2011 | 10:14 WIB 106 KALI DIBACA
turunkan tanganmu. Tidak semua orang
yang naik roda empat itu pantas kau
hormati....’’. Itulah salah satu adegan
yang sangat mengharukan saat Naga Bonar
'berbicara' pada patung Jenderal
Soedirman, meminta agar menurunkan
tangannya yang sedang hormat. Meski
hanya dalam cerita fiktif, semangat
nasionalisme, cinta tanah air, dan bela
negara, sang 'Jenderal' Naga Bonar menjadi
cermin bagi siapa saja. Khususnya kaum
generasi muda di negeri ini.
BANGSA Indonesia memperingati Hari
Kebangkitan Nasional ke-103. Usia yang
cukup tua, yang seharusnya telah mampu
mematangkan nilai-nilai dari semangat
kebangkitan itu sendiri. Di masa lalu
bangsa kita pernah jaya pada zaman
Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Bahkan
pada zaman Majapahit telah terikrar
penyatuan nusantara oleh Patih Gajah
Mada. Penyatuan nusantara ini jauh lebih
luas dari cakupan organisasi Boedi Oetomo
yang hanya meliputi pulau Jawa.
Momentum berdirinya Boedi Oetomo
secara politis telah kita sepakati sebagai
tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia di
dalam mencapai kemerdekaan.
Bahkan, secara kultural historis, para ahli
sejarah dan pakar politik sering
menempatkan peristiwa tersebut sebagai
titik awal dimulainya perjalanan sejarah
baru bagi bangsa Indonesia. Makna penting
di balik peristiwa tersebut adalah
keberanian kaum muda dalam menolak
kembali kehadiran kolonialisme di negeri
ini. Hal itu jelas tidak akan terwujud tanpa
adanya kesadaran kolektif atas imaji
kebangsaan yang dicita-citakan. Imaji
kebangsaan memiliki kekuatan luar biasa
dalam menggerakkan pikiran dan tindakan
kaum muda untuk berani menentang
kembali kolonialisme dan neokolonialisme
yang mengancam eksistensi negara dan
bangsa.
Di masa itu, kekuatan imaji kebangsaan
kaum muda dapat diandalkan dalam
meraih cita-cita mulia negara yang
merdeka. Bagaimana dengan kondisi saat
ini? Masihkah nilai-nilai kepahlawanan
kaum muda dapat diandalkan dalam
menopang kelangsungan hidup berbangsa
dan bernegara? Kaum muda merupakan
pilar utama bagi negara di belahan bumi
mana pun. Jika kaum muda tidak lagi
memiliki imaji kebangsaan yang kuat dan
kokoh, sebuah negeri bisa terancam
mengalami keruntuhan. Wajah negeri kita
semakin diwarnai dengan runtuhnya
solidaritas sosial, menguatnya kesenjangan
sosial, melemahnya kepercayaan publik,
ancaman krisis ekonomi, konflik sosial
vertikal dan horizontal, merebaknya kasus
korupsi, dan berbagai potensi ancaman
bencana, yang jika tidak terkelola dengan
maksimal akan memperkuat krisis imaji
kebangsaan.
Selalu muncul pertanyaan, apakah ada
perbedaan antara hari ini dengan 103
tahun yang lalu? Bedanya (barangkali), jika
dulu bangsa kita dijajah asing, sekarang
dijajah oleh bangsa sendiri. Banyak putra-
putri bangsa yang memiliki reputasi baik
namun tidak ada tempat di negeri sendiri.
Kalau para tokoh kebangkitan nasional
diperkenankan untuk hidup kembali, apa
kira-kira pendapat mereka tentang
Indonesia hari ini, tentang pemimpin-
pemimpin negara, dan terpenting tentang
semangat nasionalisme generasi muda.
Mengapa nasionalisme? Harus disadari
bahwa salah satu kata kunci dari lahirnya
kebangkitan nasional karena adanya
semangat nasionalisme dan bela negara.
Jujur kita akui bahwa semangat
nasionalisme saat ini hanya dimiliki oleh
generasi tua, khususnya kakek nenek kita
yang mengalami hidup di masa penjajahan.
Sementara pemahaman akan nasionalisme
dan bela negara serta cinta tanah air bagi
kalangan generasi muda semakin
memudar.
Contoh kecil saja, berapa banyak
masyarakat kita yang secara ikhlas dan atas
kesadaran sendiri mengibarkan bendera
merah putih pada peringatan 17 Agustus.
Omong kosong bicara tentang persatuan
dan kesatuan. Bila setiap saat selalu terjadi
pertikaian sesama kita sendiri di semua
tataran. Dengan dalih demi rakyat serta
untuk menunjukkan paradigma
transparansi, demokratisasi, dan
keterbukaan, unjuk rasa menjadi
pemandangan yang tidak asing lagi. Rakyat
pun menjadi bingung, sosok mana yang
pantas menjadi figur pemimpin karena
yang mengaku tokoh pun saban hari hanya
mengkritik dan menghujat.
Kita seperti sedang berjalan di alam
gelap gulita, sehingga satu sama lain saling
bertabrakan atau sengaja bertabrakan.
Kondisi seperti ini mau tidak mau telah
mengganggu para penyelenggara
pemerintahan, khususnya dalam
memberikan pelayanan bagi masyarakat.
Ironis dan menyedihkan. Semua ini bisa
terjadi karena sejarah bangsa yang
seharusnya dapat menjadi pedoman dalam
meneruskan perjuangan para pendahulu
telah ditinggalkan. Seyogyanya semangat
kebangkitan nasional ini secara terus
menerus digelorakan dalam rangka
memberikan pemahaman bagi bangsa ini,
khususnya kaum muda agar dapat
menauladani semangat dan patriotisme
para pendahulunya.
Dengan memahami sejarah masa lalu,
diharapkan ke depan tidak terdengar lagi
tuntutan sekelompok masyarakat atau
golongan yang ingin memisahkan diri dari
NKRI Tidak akan muncul konflik atau
'perang' antarsuku, kampung, sekolah, dan
lainnya karena semua telah paham bahwa
Indonesia adalah satu, bahwa kita
bersaudara.
Secara jujur harus diakui bahwa pasca
bergulirnya reformasi, banyak agenda yang
bertujuan untuk menanamkan kesadaran
bagi masyarakat terhadap bela negara dan
cinta tanah air semakin memudar, bahkan
nyaris punah. Peringatan hari-hari besar
nasional terasa hambar dan hanya sebatas
seremoni, termasuk peringatan HUT
kemerdekaan. Akibatnya, banyak para
remaja usia sekolah di tingkat SMA yang
tidak mampu menjelaskan tentang sejarah
pergerakan kemerdekaan Indonesia.
Sementara elemen kepemudaan lebih asyik
bermain dengan ranah politik dan
melupakan kewajiban yang mestinya
dilakukan dalam rangka pembinaan dan
pengembangan kaum generasi muda.
Untuk hal yang satu ini, rasanya tidak salah
jika kita mengadopsi langkah-langkah atau
program yang pernah dilakukan
pemerintahan Orde Baru. Tidak semua
peninggalan Orde Baru haram untuk
diteruskan, sepanjang hal tersebut bernilai
positif bagi kebaikan dan keutuhan bangsa
ini ke depan.
Seyogyanya organisasi Karang Taruna
sebagai wadah pembinaan dan
pengembangan generasi muda lebih
diberdayakan lagi keberadaannya.
Mengingat, Karang Taruna merupakan
satu-satunya organisasi sosial yang
independen tanpa membedakan suku,
agama, dan latar belakang politik. Karang
Taruna diharapkan mampu menjadi
perekat dan pemersatu kaum muda dari
berbagai macam latar belakang yang ada.
Bila tidak, potret pemuda dari waktu ke
waktu akan semakin buram dan tentu saja
berdampak pada kualitas para calon
pemimpin di masa datang. Benar bahwa
pemuda merupakan ahli waris pemimpin di
masa depan. Tapi perlu diingat, para
pemuda pun punya kewajiban untuk
membuat warisan bagi generasi
berikutnya. Jangan sampai pada saatnya
nanti tidak mampu menjawab ketika ada
yang bertanya tentang apa yang akan Anda
wariskan kepada generasi berikutnya.
Karena pada kenyataannya hari ini kita
tidak berbuat apa-apa, kecuali untuk diri
sendiri.
Tanpa bermaksud mencari kambing
hitam, tidak ada salahnya jika kita
menengok pada sistem dunia pendidikan
yang memiliki tanggungjawab besar dalam
membentuk sosok generasi muda yang
handal. Belakangan sangat tren dan
menjamur sekolah-sekolah bertaraf
Internasional. Baik negeri maupun swasta.
Semua pihak, baik lembaga pendidikan
maupun para orang tua, merasa bangga
dengan sekolah ini karena dipandang
mampu memberikan fasilitas yang jauh
lebih baik dan lengkap dibanding sekolah
biasa. Tidak pernah terpikir bahwa dalam
perjalanannya sedang terjadi pengikisan
semangat nasionalisme bagi para siswa
terhadap Ibu Pertiwi. Maka jangan
menyesal jika beberapa tahun ke depan
generasi muda kita tidak hafal lagi dengan
lagu kebangsaan Indonesia Raya dan tidak
peduli terhadap Pancasila dan UUD 1945.
Maklum, mereka dalam kesehariannya
dituntut untuk lebih banyak belajar bahasa
asing dibandingkan bahasa Indonesia. Maka
tidak ada salahnya jika semua pihak
mencermati penerapan kurikulum dan
proses belajar mengajar di sekolah bertaraf
internasional ini, agar apa yang
dikhawatirkan tidak terjadi. Jangan sampai
para murid lupa ke-Indonesiaan-nya,
kehilangan rasa cinta negaranya yang
merupakan modal paling dahsyat dalam
mewujudkan kebangkitan secara nasional.
(*)
User's Online
848 Tamu online
Statistik
Pengunjung
Hari Ini 4783
Kemarin 5573
Minggu
Ini 14883
Bulan
Ini 46989
Jumlah 1500730
IP: 80.239.243.36
OPERA 9.80,
Visitors Counter
Gabung di Facebook!
Tajuk
Pencapaian Monumental KPK
PENANGKAPAN buron KPK, M. Nazaruddin,
oleh tim gabungan merupakan pencapaian
yang monumental bagi lembaga
antikorupsi tersebut. Nazaruddin...
Darsem Sebaiknya Tahu Diri
KB Bakal Masuk Kurikulum
Rakyat Bubarkan Parpol
Fraud Management
Kontroversi Marzuki Alie
Moratorium TKI
Jangan Anarkis Selama Ramadan
Internal KPK Tak Lolos
Rame-Rame Keroyok Hambalang
Podium Rakyat
Penipuan melalui ATM
Polantas Berlaku Kasar
Berantas Penyelewengan Dana
PNS Pulang Cepat
Berantas Petasan
Perbaikan Jalan
Setop Pemadaman Listrik
Akta Kelahiran Belum Selesai
Apresiasi Wali Kota
Razia Indekos
Hari Ini! Selasa, 9 Agustus 2011 Cari
Home Berita Utama Metropolis Lampung Raya Politika Metro Bisnis Pendidikan Society Nasional All Sport Entertainment
Opini
SABTU, 21 MEI 2011 | 10:14 WIB 106 KALI DIBACA
Saturday, 23 July 2011
Welcome to Next Imaji
Next Imaji adalah arti dari (imaji selanjutnya), selanjutnya adalah imaji-imaji manusia yang tak terungkap & mungkin imaji itu sangat luar biasa. Bayangkan ada ber' milyar-milyar Manusia di muka bumi ini dan ber juta juta imaji yang tersimpan.
Imaji : adalah daya pikir seseorang yang mampu menembus batas ketidak mampuannya ,dengan Imaji kita bisa menciptakan sesuatu yang sangat luar biasa.
Selanjutnya adalah Imaji anda,imaji saya & Imaji bangsa ini :) .
Imaji : adalah daya pikir seseorang yang mampu menembus batas ketidak mampuannya ,dengan Imaji kita bisa menciptakan sesuatu yang sangat luar biasa.
Selanjutnya adalah Imaji anda,imaji saya & Imaji bangsa ini :) .
Subscribe to:
Posts (Atom)